GURU MALAS MEMBACA DAN MENAMBAH ILMU, SULIT UNTUK BERKEMBANG
IWARAINFO.BLOGSPOT.COM — Guru adalah agen perubahan dan sumber inspirasi bagi siswa. Namun, bagaimana jika seorang guru justru malas membaca dan enggan menambah ilmu? Kondisi ini dapat menjadi penghambat besar dalam pengembangan profesionalitas dan kualitas pendidikan.
Minat Baca yang Rendah di Kalangan Pendidik
Data dari UNESCO menunjukkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, hanya 0,001—artinya, hanya 1 dari 1.000 orang yang benar-benar gemar membaca. Ironisnya, sebagian guru pun termasuk dalam kelompok ini, yang seharusnya menjadi teladan dalam budaya literasi.
Mengapa Guru Harus Terus Belajar?
Prof. Dr. H. Armai Arief, MA, dalam bukunya Pendidikan Islam: Kajian Teoretis dan Praktis (2013), menekankan pentingnya guru sebagai pembelajar sepanjang hayat. Ia menyatakan bahwa guru yang berhenti belajar akan tertinggal dari perkembangan ilmu pengetahuan dan metode pembelajaran modern.
Dr. H.A. Malik Fadjar, MA, mantan Menteri Pendidikan Nasional, juga pernah menegaskan: Guru yang tidak membaca akan menjadi pengajar yang kering inspirasi, dan hanya mengulang-ulang hal yang sama dari tahun ke tahun.
Guru yang malas membaca dan belajar berisiko:
1. Mengajar dengan metode yang usang dan kurang relevan.
2. Tidak mampu menjawab tantangan zaman, seperti integrasi teknologi.
3. Kehilangan daya tarik di mata siswa.
4. Menurunkan kualitas pembelajaran secara keseluruhan.
Di era digital dan globalisasi, guru dituntut untuk adaptif, kreatif, dan melek informasi. Tanpa semangat belajar, guru akan kesulitan menjawab kebutuhan zaman.
Langkah Menjadi Guru yang Terus Berkembang. Agar tidak terjebak dalam stagnasi, guru dapat:
1. Membiasakan membaca buku dan artikel berkualitas setiap hari.
2. Mengikuti pelatihan, seminar, atau workshop pendidikan.
3. Terlibat dalam komunitas profesi atau forum diskusi.
4. Mengembangkan keterampilan digital dan pedagogi modern.
Guru yang malas membaca dan menambah ilmu akan sulit berkembang dan membatasi potensi siswa. Sebaliknya, guru yang aktif belajar akan mampu menciptakan pembelajaran yang dinamis dan relevan.
Seperti kata Ki Hajar Dewantara: “Guru adalah suri tauladan, bukan sekadar pengajar.”
Mari jadikan profesi guru sebagai ladang pembelajaran tanpa henti, demi masa depan pendidikan Indonesia yang lebih baik.

Komentar
Posting Komentar