SUDAH TIDAK ZAMAN GURU MENGAJAR METODE TEXT BOOK

Oleh: Paulinus Teensian Mangko


IWARAINFO.BLOGSPOT.COM — Di era digital yang serba cepat ini, metode pengajaran tradisional yang berpusat pada buku teks (text book) mulai dipertanyakan relevansinya. Buku teks yang bersifat statis dinilai tidak lagi mampu mengikuti perkembangan zaman dan kebutuhan peserta didik saat ini. Banyak ahli pendidikan dan praktisi menyuarakan perlunya transformasi metode pembelajaran agar lebih kontekstual, fleksibel, dan sesuai dengan perkembangan teknologi.

Perubahan Paradigma Pendidikan

Paradigma pendidikan global telah berubah dari teacher-centered menjadi student-centered. Dalam pendekatan ini, guru bukan lagi satu-satunya sumber informasi, melainkan fasilitator pembelajaran yang memberdayakan siswa untuk belajar secara aktif, mandiri, dan kolaboratif. Model ini menuntut guru untuk melampaui sekadar mengajar dari buku teks.

Menurut Dr. Sugata Mitra, profesor di Newcastle University dan pelopor eksperimen “Hole in the Wall”, “We need to move from ‘content delivery’ to ‘learning facilitation’.” Ia menekankan pentingnya memberikan ruang bagi siswa untuk mengeksplorasi, menemukan, dan memecahkan masalah secara mandiri.

Kelemahan Buku Teks

Buku teks, meskipun masih memiliki nilai sebagai referensi, memiliki beberapa keterbatasan:

  1. Keterbatasan informasi: Buku teks tidak selalu mencakup topik terkini atau isu-isu yang sedang berkembang.
  2. Kurangnya fleksibilitas: Semua siswa diajarkan dengan pendekatan yang sama, tanpa memperhatikan perbedaan gaya belajar.
  3. Statis dan cepat usang: Buku teks tidak dapat memperbarui informasi secara real-time seperti media digital.

Teknologi Sebagai Solusi

Dengan munculnya Learning Management System (LMS), video pembelajaran, simulasi digital, dan sumber daya online lainnya, guru memiliki banyak pilihan untuk mengembangkan materi ajar yang dinamis. Platform seperti Google Classroom, Khan Academy, dan Zenius menjadi pelengkap, bahkan pengganti, dari materi textbook tradisional.

Dr. Tony Wagner, peneliti pendidikan di Harvard University, menyatakan bahwa, “The world doesn’t care what you know. What the world cares about is what you can do with what you know.” Kutipan ini menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis, kolaboratif, dan problem solving jauh lebih penting daripada sekadar hafalan isi buku.

Peran Guru Masa Kini

Guru abad ke-21 dituntut untuk:

  1. Menjadi fasilitator dan pembimbing, bukan penyampai informasi tunggal.
  2. Memanfaatkan teknologi untuk menciptakan pembelajaran yang bermakna.
  3. Menyesuaikan materi dengan konteks lokal dan global yang relevan.

Sudah saatnya dunia pendidikan meninggalkan ketergantungan pada buku teks sebagai satu-satunya sumber pembelajaran. Guru perlu beradaptasi dengan zaman, mengintegrasikan teknologi, dan mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih kontekstual, interaktif, dan berpusat pada peserta didik.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dinas Pendidikan Kabupaten Barito Timur Gelar Acara Perpisahan Honorer Lulus PPPK dan Penyambutan ASN Baru

Kemenkes Terbitkan Edaran Waspada Kenaikan Kasus COVID-19 Asia, Indonesia Diminta Siaga

Relawan Barito Timur, Pahlawan Tanpa Tanda Jasa yang Selalu Siaga Menolong Sesama